Televisi menjadi salah satu media yang kuat dalam membentuk opini publik. Tayangan-tayangan yang ditampilkan secara terus-menerus selama hampir 24 jam secara mudah akan mengiring publik untuk berpihak pada satu kelompok tertentu dan memandang skeptis pada kelompok yang lain. Ambil contoh, pada tayangan sepakbola.
Kita semua tahu bahwa persepakbolaan negeri ini sedang dalam kondisi carut marut. Munculnya dua liga besar -ISL dan IPL – mau tidak mau membuat masyarakt terpecah dalam memberikan dukungan. Satu sisi ada masyarakat yang mendukung ISL ada pula masyarakat yang mendukung IPL. Tampaknya, kondisi ini pun semakin diperkuat oleh peran televisi. Misalnya, ada satu stasiun televisi yang secara terus menerus menayangkan satu liga, mulai dari tayangan langsung, highlight pertandingan sampai update hasil pertandingan. Sementara, untuk liga yang satunya lagi terkesan dicueki.
Memang, terlalu dini jika kita menganggap hal ini merupakan wujud ketidak netralan stasiun televisi dalam menayangkan berita. Kita juga tidak bisa dengan semena-mena menuduh bahwa stasiun televisi tersebut berpihak pada kelompok tertentu. Namun, kita patut mempertanyakan semua ini. Kenapa hanya satu? Kenapa tidak dua-duanya?
Sebagaimana yang tertulis diatas, televisi menjadi media yang cukup kuat dalam menggiring opini publik. Jadi, sangat disayangkan jika tayangan televisi dimanfaatkan untuk menggiring opini masyarakat untuk berpihak pada satu kelompok. Seharusnya, televisi bisa menjadi media yang netral, yang memberikan pemberitaan yang lebih berimbang.
Yah…itu memang sudah menjadi hak stasiun televisi untuk memutuskan apa yang mereka tayangkan. Namun, sebagai media publik, sudah selayaknya stasiun televisi juga memikirkan kepentingan publik, bukan cuma kepentingan kelompok, atau si pemilik stasiun tersebut.
Dua tahun kedepan, negeri kita akan menyelenggarakan gawe besar dalam bentuk pemilu. Pada situasi inilah netralitas televisi akan mendapat ujian yang semakin berat. Kita semua tahu bahwa beberapa stasiun televisi kita dimiliki oleh beberapa tokoh politik papan atas. Artinya, tidak menutup kemungkinan televisi akan jadi media ajang kampanye partai politik tertentu. Namun, kita tetap berharap bahwa televisi memberikan tayangan berita yang berimbang dan tanpa memihak. Televisi harus dibebaskan dari kepentingan tertentu, meski sang pemilik adalah tokoh politik, misalnya.
Televisi harus mampu memberikan pemberitaan yang menyeluruh tanpa harus berusaha menggiring publik untuk memihak kelompok tertentu. Biarlah, masyarakat yang akan menentukan siapa yang mereka pilih, apa yang mereka sukai, dan kemana mereka harus berpihak. Televisi harus tetap menjadi media informasi yang netral sehingga menjadi bagian dari proses pencerdasan masyarakat negeri ini.
SUMBER



0 komentar:
Posting Komentar