Khawatir Pilar Jembatan Roboh, Penyelaman Terpaksa Dihentikan
Runtuhnya jembatan kebanggaan masyarakat Kukar, Jembatan Mahakam II, dan jatuhnya korban masyarakat sipil dalam musibah itu, membuat hati rakyat Kota Raja tercabik-cabik. Namun kesedihan ini tak boleh berlarat-larat. Masyarakat Kukar harus tabah dan kembali bangkit. Demikian dinasihatkan oleh mantan Gubernur Kaltim Yurnalis Ngayoh.
“Jembatan Mahakam II yang runtuh biar lah runtuh. Tapi segera bangun jembatan baru yang lebih kuat dan ampuh. Yang berarti membangun masa depan lebih baik dari hari kemarin dan hari ini,” kata Ngayoh kemarin.
Tak hanya ia yang prihatin, tapi sejumlah rekan Ngayoh semasa tinggal di Asrama Realino Yogyakarta juga ikut prihatin dan berduka atas peristiwa runtuhnya jembatan tersebut. Dijelaskan Ngayoh, Realino adalah asrama Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang di dalamnya tinggal berbagai macam orang dari lintas suku, agama dan berasal dar seluruh Indonesia. Bahkan ada mahasiswa dari Jepang. Teman-teman se asrama Ngayoh turut mengutarakan keprihatinannya atas musibah ini.
“Teman seasrama saya, Dr Tjandra mengatakan mungkin ini peringatan dan cobaan dari Tuhan. Peringatan mungkin karena ada perbuatan kita yang tidak benar waktu membangun. Bisa karena ada kesalahan disengaja atau tidak disengaja dalam konstruksi.
Atau sumpah jabatan para pejabat di Kaltim tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bisa jadi ini ‘tulah’ yang berbunyi, ‘Berpucuk Layu, Berbatang Patah dan Berakar Tebor’. Semoga Tuhan melindungi dan memberkati kita semua,” pungkasnya.
Dalam evakuasi kemarin, Tim SAR gabungan terpaksa kembali menunda penyelaman karena menunggu rekomendasi tim teknis dari Dinas PU. Pada hari kedua ini tim gabungan tidak bisa mengevakuasi korban yang kabarnya terjebak puing jembatan di dasar sungai.
“Hari ini kita sudah melaksanakan operasi penyelaman dengan menerjunkan 31 penyelam untuk mengamati struktur jembatan yang ada. Kesimpulannya, hasi dari observasi dari teman-teman penyelam tadi ternyata jembatan yang ada masih labil sebagai akibat dari proses kolaps yang terjadi,” kata Kasubid Penanggulangan Bencana Kesbangpolinmas Kukar, Herlambang.
Tidak hanya itu saja, penghentikan penyelaman kemarin juga diakibatkan dua tiang penyangga yang ada dikuatirkan akan roboh menyusul jembatannya. Hal ini terlihat jelas dimana tiangnya sudah separuh diluar posisinya yang sebenarnya. “Namun kami masih menunggu tim teknis tersebut dua jam setelah ini, yang kemudian akan dirapatkan dengan unsur terkait untuk mengambil tindakan apa yang harus dilakukan besok,” jelasnya.
Kendati demikian, tim gabungan ternyata sudah menyiapkan alternatif jika memang penyelaman tidak bisa dilakukan. Yakni dengan menyiapkan sebanyak lima atau enam buah crane untuk memindahkan jembatan atau patahan tersebut ke pinggir sungai. Namun itu pun jika memang memungkinkan. Selain karena tiang peyangga dikhawatirkan akan menyusul ambruk, tim juga disulitkan dengan kerangka beratnya jembatan yang ada yang dimana mencapai 1.620 ton.
Oleh karenanya alternatif lain yang disiapkan dengan cara memotong-motong beberapa bagian jembatan tersebut baru kemudia diangkat kepermukaan. Namun cara terakhir ini disebutkan Herlambang sangat beresiko tinggi karena struktur jembatan ayng adad masih labil.
“Asumsi kami korban kemungkinan besar masih berada di dalam mobil. Nah mobil ini kan berada di dalam kerangka jembatan, untuk mengambilnya ini susah,” ujar Herlambang. Tampaknya tim lebih condong menempuh cara pertama dengan cara menarik jembatan tersebut dengan menggunakan crane.
“Ketika sudah dalam jarak aman, maka kita akan mengevakuasi korban yang terjebak dalam mobil tersebut,” tegas Herlambang.
Selain itu juga, tim gabungan juga mengalami kesulitan untuk melakukan evakuasi pada saat menyelam tersebut. Pasalnya pandangan didalam air terhalang yang disebabkan tingkat kegelapan sangat tinggi atau visibility zero. Ternyata kerangka jembatan tersebut masuk kedalam dasar sungai terdiri dari lumpur dan pasir sedalam 38 hingga 50 meter. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan hanya dengan cara meraba saja.
“Posisi jembatan memang membentang, tetapi sebelah kanan dari alur jembatan ini permukaan sungainya lebih dangkal, apakah patahannya ini terbelah dua kita tidak tahu. Kemungkinan kedalaman 38 meter tersebut ada benda, namun kita tidak tahu benda itu apa,” papar Herlambang.
Sementara itu, Press Relations Officer Total E&P Indonesie, Hendratno Eko Putro , mengakui pihak Total sudah mengerahkan Echosounder atau alat peraba atau sonar beserta teknisinya. Alat ini berfungsi untuk mendeteksi benda-benda yang berada di dasar sungai. Namun hingga berita ini diturunkan, alat yang dimaksud belum kunjung datang “Alatnya ini sedang dalam perjalanan berikut dengan teknisinya, kita memang memiliki alat tersebut untuk membantu proses evakuasi korban ini,” terangnya.
Malam Ini Doa Bersama di Pedestarian
Untuk mendoakan para korban dan mengisi kembali semangat warga Kukar pasca runtuhnya Jembatan Mahakam II, warga sipil di Kota Raja berinisiatif untuk melakukan doa bersama pada Senin malam ini di pedestarian, taman bawah jembatan pada pukul delapan malam.
Penggagas acara, Rinda Agustina dan Chandra, mengatakan doa bersama ini selain untuk mendoakan para korban wafat, keselamatan bagi mereka yang hilang dan kekuatan bagi para petugas yang melakukan evakuasi.
Doa bersama ini juga untuk membenahi lagi hati masyarakat Kukar yang hatinya tengah tercabik-cabik setelah jembatan kebanggaan mereka runtuh.
Rinda katakan, Jembatan Mahakam II memang sudah runtuh, tapi semangat masyarakat Kukar tidak boleh ikut runtuh. Warga Kukar harus saling meyakinkan bahwa mereka mampu bahu-membahu menghadapi musibah ini, saling mengisi lewat pandangan positif dan membangun harapan.
“Jembatan kita memang sudah runtuh, tapi sebelum kita membangun yang baru, mari kita bangun dulu harapan kita bersama. Bahwa warga Kukar bisa melewati musibah ini dengan tegar. Kita akan berhenti menangis, mengeluh dan menyalahkan. Warga Kukar akan bangkit,” cetus Rinda kemarin.
Doa bersama ini juga untuk memohon kepada Tuhan keselamatan bagi korban hilang dan kekuatan bagi ratusan aparat yang tengah bekerja keras melakukan evakuasi.
Rinda katakan, acara ini murni acara masyarakat sipil Kukar tanpa mengatasnamakan kelompok dan golongan mana pun, mengingat musibah ini adalah bencana bagi masyarakat sipil. Ia juga mengimbau kepada siapa pun yang hadir nanti malam agar melepaskan atribut kelompoknya. “Sebaiknya tidak ada seorang pun yang ambil keuntungan atas musibah yang menimpa orang banyak seperti ini. Mari kita hadapi murni sebagai rakyat Kukar,” harapnya.
Karena itu Rinda berharap seluruh masyarakat Kukar dari berbagai golongan, agama, suku, profesi dsb, untuk hadir bersama-sama nanti malam.
Sementara, Chandra menambahkan, penggalangan partisipan yang dilakukan sejak kemarin sore dilakukan lewat Facebook, Twitter, Blackberry Messanger Broadcast, telepon dan mulut ke mulut. Ia mengajak kawan-kawannya dari berbagai komunitas untuk ikut dalam doa bersama nanti malam. Tanggapan yang dari masyarakat yang ia undang sangat bagus. Ratusan orang diprediksikan akan hadir dalam doa bersama ini.
”Benar-benar gerakan masyarakat sipil. Kami undang lewat jaringan pertemanan dengan cara-cara sederhana dan tak makan biaya. Saya yakin doa yang dipanjatkan bersama-sama, akan lebih didengarkan oleh Allah,” ucap Chandra yang juga memimpin Radio Swaramaha ini.
Penanggungjawab doa bersama ini, Hilman Fajrian, mengatakan telah berkoordinasi dengan Polres setempat untuk keamanan dan kelancaran acara. Ia mengimbau bagi masyarakat yang turut serta untuk tak berbuat kebisingan karena masyarakat tengah berada dalam kondisi berduka. Lokasi yang dipakai juga menunggu konfirmasi dari kepolisian dan petugas evakuasi yang ada di sekitar agar tak menganggu pekerjaan mereka.
”Acara doa ini penting, tapi lebih penting lagi pekerjaan petugas di lapangan. Kita dalam kondisi berduka, tolong agar tidak berbuat kehebohan dan tetap menjaga sikap. Ini bukan event keramaian,” imbaunya.
SUMBER



0 komentar:
Posting Komentar