Lambang

Saling berbagi dan bertukar Informasi Pengetahuan yang unik - unik

Follow Me and Like My Facebook,Please!!! =)THANKYOU(=

Follow Me and Like My Facebook,Please!!! =)THANKYOU(=

Senin, 28 November 2011

Tenggarong - Manajer Umum Kami Wafat...

Setiap orang akan mati. Tapi tak semua orang berani menyongsong kematian dengan cara yang paling gagah berani. Koran Kaltim tengah berduka. Kami kehilangan Muhammad Iskandar (35), Manajer Umum kami yang menjadi salah satu korban dalam runtuhnya Jembatan Mahakam II pada Sabtu lalu. Namun kebanggaan kami semua menyertai kepergiannya, bahwa ia menyambut azal karena mementingkan nyawa yang lain. Tak semua dari kita bisa mati dengan gelora seperti itu.
Bang Kondoi, begitu kami memanggilnya. Sabtu sore ia dan istri serta anaknya, Emma dan Cinta Yasmin (5), pulang dari Samarinda menuju Tenggarong dengan sepeda motor.
Jembatan yang dilintasinya runtuh, mereka terjun ke bawah bersama korban yang lain. Bang Kondoi dan istrinya segera naik ke permukaan. Sebuah perahu ces mendekat mencoba menolong. Dari cerita nakhoda, perahu sudah berada di sisinya. Ia memerintahkan Emma segera naik. Di depannya ia melihat seorang wanita lain meronta butuh pertolongan. Bang Kondoi meminta nakhoda meninggalkannya dan mendahulukan wanita itu.
”Tolong selamatkan dia dulu. Saya akan mencari Cinta,” ucapnya kepada istrinya pada sebuah ketegangan yang luar biasa. Sebuah momen dimana nilai seorang manusia diputuskan, dan ia menganggap nilai orang lain lebih berharga daripada nyawanya.
Kondoi kembali berenang ke tengah dan menyelam mencari putrinya. Sejak saat itu, Kondoi tak lagi terlihat. Tuhan menyambutnya di dasar sungai.
Jenazahnya ditemukan tadi malam pukul sembilan sekitar 500 meter di sebelah hilir jembatan. Peci bulat yang selalu dikenakannya kemana-mana dan menjadi ’identitasnya’ itu masih ada di kepalanya. Tak sulit mengenali jenazahnya yang masih utuh. Polisi menduga ia lemas dan kehabisan nafas. Sampai tadi malam Cinta juga belum ditemukan.
Ibunya yang dipanggil untuk mengenali jenazah, mengatakan bahwa beberapa hari sebelumnya mendiang pamit kepadanya untuk pergi ke Banjarmasin. Bang Kondoi memberikan sejumlah uang belanja. Padahal ini di luar kebiasaan. Belakangan ibunya mendengar rencana kepergian ke Banjarmasin itu batal. Memang benar. Bang Kondoi pergi ke surga.
Kami di Koran Kaltim tak pernah melihat Bang Kondoi kecuali dengan senyum dan tawa di wajahnya. Dalam mengurusi aset, ia tak pernah mempersulit, namun tak hilang kecermatan. Dari dia kami belajar bahwa penolakan dan perbedaan pendapat bisa dilakukan lewat gelak tawa. Tiap bertemu, ia menyentuh punggung kami. Dari situ kami merasa memiliki kakak.
Dengan tubuhnya yang tinggi besar dan tampang yang rupawan, Bang Kondoi, kami tahu adalah orang yang pemalu. Ia tak banyak bicara, apalagi memerintah. Yang kami tahu, ia ’meminta tolong’. Bagi seorang bawahan, Bang Kondoi adalah atasan yang langka.
Kami tahu, saat ini Bang Kondoi pasti meminta kami tak usah sedih dan risau terlalu panjang. Karena kami hanya berpisah sejenak. Sebelum kami kelak akan duduk berbincang-bincang lagi dan berbagi kisah, terutama kisah heroiknya di Sungai Mahakam. Pada kehidupan yang lain.


SUMBER

0 komentar:

Posting Komentar

Thumbnail Related Post blogger tutorials
Thumbnail Related Post blogger tutorials
Tiap Hari ISI Pulsa ke Orang lain??? Jalan Kaki Ke Depan Buat Beli Pulsa?? Butuh Pulsa Tengah Malam Tidak Ada Yang Jual, Padahal Lagi Butuh??? CAPEK DEH!!! =D, AYO!!! ISI Pulsa Sendiri Yuuk.. Praktis!!! Dimana saja kita butuh Pulsa, Kita Bisa ISI Sendiri.. Klik Gambar Di Bawah INI