Total Tujuh Mobil Berada di Dasar Sungai, Satu Mobil Terperangkap Puing
Badan SAR Nasional (Basarnas) memastikan ada tujuh unit mobil yang berada di dasar Sungai Mahakam. Tujuh mobil itu tercebur ke sungai ketika Jembatan Mahakam II runtuh pada Sabtu pekan lalu. Hal itu diketahui dari hasil pemindaian menggunakan multi beam echo sounder, atau alat sonar milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kemarin. Tujuh mobil itu salah satunya adalah sebuah bus. Demikian diungkapkan Kepala Basarnas Pusat Marsekal Madya Daryatmo.
Pemindaian dilakukan dan diketahui sebelum proses pengangkatan badan jembatan di dasar sungai dengan menggunakan balon dilakukan kemarin. Namun pengangkatan gagal lagi karena tim memutuskan mengangkat kendaraan di dasar sungai dulu sebelum mengangkat badan jembatan.
“Fokus kita menyelamatkan para korban dulu. Jadi kita tunda pemindahan badan jembatan dan angkat mobil-mobil di bawah dulu,” ujar Mulyadi.
Tapi ternyata tujuh mobil itu pun belum bisa diangkat. Para penyelam, katanya, disulitkan oleh tidak adanya jarak pandang di dasar sungai karena kepekatan dan keruhnya air. Tak hanya itu, penyelam juga terkendala oleh derasnya arus.
“Arus sungai biasanya pada pagi hari tidak begitu deras. Baru deras ketika sore,” tuturnya.
Dari hasil pemindaian diketahui enam dari tujuh mobil berada di luar kerangka jembatan, sedang satu mobil masih terperangkap di bawah kerangka. Satu bus juga dipastikan berada di dasar sungai, sedang enam sisanya adalah mobil biasa. Posisi enam mobil ini berada di sebelah selatan jembatan atau arah Loa Kulu atau sekitar 40-50 meter dari posisi semula.
Posisi jembatan saat ini tak lagi rebah di dasar sungai, melainkan berguling ke arah selatan. Muka jalanan yang sebelumnya ada di posisi atas, sekarang menghadap selatan. Posisinya juga bergeser 40 meter ke arah selatan.
Pergerakan runtuhan jalan dan kendaraan ini diakibatkan derasnya arus dan labilnya kontur tanah bawah sungai.
Kapolda Irjen Pol Bambang Widaryatmo memastikan ada satu kendaraan yang diduga bus di bawah. Echo sounder memindai sebuah benda berbentuk kubus dengan panjang 5,7 meter dan lebar 2,6 meter.
“Ada sebuah mobil yang diduga berjenis bus karena ukuran panjangnya diketahui melalui proses echo sounder oleh BPPT sepanjang sekitar 5,7 meter,” ujarnya di hadapan rombongan Anggota Komisi V DPR RI yang datang ke lokasi kemarin.
Pada echo sounding pertama, salah satu petugas BPPT, Wahyu Pandu, mengatakan setidaknya ada enam buah titik kubus yang terbaca alat echo sounder yang mereka duga adalah mobil di luar kerangka jembatan pada saat melakuakan proses side scan sonar. Enam buah titik kubus ini berada di luar rangka jembatan dan di kedalaman sekitar 45 meter. Belakangan, satu titik kubus lagi terlihat tengah terjebak pada kerangka jembatan.
Kendati demikian, Wahyu Pandu mengakui alat yang digunakannya tersebut tidak bisa mengetahui ada tidaknya korban di dalam kendaraan. “Echo sounder hanya bisa mendeteksi benda logam di dasar sungai saja serta mengukur kedalam air sungai dan titik koordinat objek,” tukas Wahyu.
Namun keterangan berbeda diutarakan Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Dr Sutopo Purwo Nugroho. Ia katakan mobil yang ada di dasar sungai berjumlah delapan, satu terperangkap di rangka jembatan, tujuh di luar jembatan.
“Tim penyelam siang ini fokus mengeluarkan korban yang ada di kedelapan mobil tersebut,” ujar Sutopo.
SUMBER
Badan SAR Nasional (Basarnas) memastikan ada tujuh unit mobil yang berada di dasar Sungai Mahakam. Tujuh mobil itu tercebur ke sungai ketika Jembatan Mahakam II runtuh pada Sabtu pekan lalu. Hal itu diketahui dari hasil pemindaian menggunakan multi beam echo sounder, atau alat sonar milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kemarin. Tujuh mobil itu salah satunya adalah sebuah bus. Demikian diungkapkan Kepala Basarnas Pusat Marsekal Madya Daryatmo.
Pemindaian dilakukan dan diketahui sebelum proses pengangkatan badan jembatan di dasar sungai dengan menggunakan balon dilakukan kemarin. Namun pengangkatan gagal lagi karena tim memutuskan mengangkat kendaraan di dasar sungai dulu sebelum mengangkat badan jembatan.
“Fokus kita menyelamatkan para korban dulu. Jadi kita tunda pemindahan badan jembatan dan angkat mobil-mobil di bawah dulu,” ujar Mulyadi.
Tapi ternyata tujuh mobil itu pun belum bisa diangkat. Para penyelam, katanya, disulitkan oleh tidak adanya jarak pandang di dasar sungai karena kepekatan dan keruhnya air. Tak hanya itu, penyelam juga terkendala oleh derasnya arus.
“Arus sungai biasanya pada pagi hari tidak begitu deras. Baru deras ketika sore,” tuturnya.
Dari hasil pemindaian diketahui enam dari tujuh mobil berada di luar kerangka jembatan, sedang satu mobil masih terperangkap di bawah kerangka. Satu bus juga dipastikan berada di dasar sungai, sedang enam sisanya adalah mobil biasa. Posisi enam mobil ini berada di sebelah selatan jembatan atau arah Loa Kulu atau sekitar 40-50 meter dari posisi semula.
Posisi jembatan saat ini tak lagi rebah di dasar sungai, melainkan berguling ke arah selatan. Muka jalanan yang sebelumnya ada di posisi atas, sekarang menghadap selatan. Posisinya juga bergeser 40 meter ke arah selatan.
Pergerakan runtuhan jalan dan kendaraan ini diakibatkan derasnya arus dan labilnya kontur tanah bawah sungai.
Kapolda Irjen Pol Bambang Widaryatmo memastikan ada satu kendaraan yang diduga bus di bawah. Echo sounder memindai sebuah benda berbentuk kubus dengan panjang 5,7 meter dan lebar 2,6 meter.
“Ada sebuah mobil yang diduga berjenis bus karena ukuran panjangnya diketahui melalui proses echo sounder oleh BPPT sepanjang sekitar 5,7 meter,” ujarnya di hadapan rombongan Anggota Komisi V DPR RI yang datang ke lokasi kemarin.
Pada echo sounding pertama, salah satu petugas BPPT, Wahyu Pandu, mengatakan setidaknya ada enam buah titik kubus yang terbaca alat echo sounder yang mereka duga adalah mobil di luar kerangka jembatan pada saat melakuakan proses side scan sonar. Enam buah titik kubus ini berada di luar rangka jembatan dan di kedalaman sekitar 45 meter. Belakangan, satu titik kubus lagi terlihat tengah terjebak pada kerangka jembatan.
Kendati demikian, Wahyu Pandu mengakui alat yang digunakannya tersebut tidak bisa mengetahui ada tidaknya korban di dalam kendaraan. “Echo sounder hanya bisa mendeteksi benda logam di dasar sungai saja serta mengukur kedalam air sungai dan titik koordinat objek,” tukas Wahyu.
Namun keterangan berbeda diutarakan Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Dr Sutopo Purwo Nugroho. Ia katakan mobil yang ada di dasar sungai berjumlah delapan, satu terperangkap di rangka jembatan, tujuh di luar jembatan.
“Tim penyelam siang ini fokus mengeluarkan korban yang ada di kedelapan mobil tersebut,” ujar Sutopo.
SUMBER



0 komentar:
Posting Komentar