BALIKPAPAN – Gubernur
Kaltim Awang Faroek mengaku Pemprov Kaltim menginginkan penyertaan
modal pada pengelolaan Blok Mahakam ‘hanya’ 40 persen. 60 persen
sisanya, kata Awang, berhak untuk dimiliki Pemkab Kukar sebagai daerah
pemilik. Komposisi ini dirancang menjelang berakhirnya kontrak
perusahaan migas asal Prancis Total E&P Indonesie (TEPI) pada 2017
mendatang.
“Kalau provinsi cukup 40 persen saham pengelolaan Blok Mahakam. Kutai Kartanegara yang dapat 60 persen saham sudah semestinya,” kata Awang kemarin.
Awang mengatakan, sudah ada pembicaraan intensif rencana pengelolaan blok Mahakam antara Pemprov dengan Pemkab Kutai Kartanegara. Masing-masing daerah sudah menyerahkan pengelolaan blok Mahakam pada perusahaan daerah sudah dibentuk.
“Tidak perlu saling bertengkar memperebutkan Blok Mahakam. Semuanya mesti saling pengertian,” ujarnya. Bahkan ia menilai sudah saatnya perusahaan besar multinasional ikut bergabung dalam pengelolaan blok Migas.
Ketua DRPD Kaltim Mukmin Faisyal ikut mendukung sepenuhnya niat ini. Ia katakan, sudah saatnya blok kaya migas itu dikelola oleh Indonesia sendiri. “Cara bisa menggandeng Pertamina,” ucapnya.
Mukmin setuju keterlibatan perusahaan nasional berpengalaman dalam pengelolaan. Karena itulah lobi dengan pemerintah pusat terus dilakukan untuk menggolkan harapan Kaltim.
“Baik bersama DPRD maupun intitusi Gubernur dan timnya untuk terus melakukan lobi-lobi ini,” katanya.
Berapa sebenarnya investasi yang diperlukan?
Presiden Director General dan GM TEPI, Elizabeth Proust, mengatakan pihaknya mengatur anggaran investasi Blok Mahakam dari 1967 sampai 2014 sebesar sebesar USD16,500 miliar atau Rp148 triliun. Saat ini mereka mengeluarkan investasi tambahan Rp38 triliun. Bila mereka berhasil memperpanjang kontrak 2017-2042 (25 tahun), maka mereka menanamkan modal lagi USD7 miliar atau Rp60 triliun.
“Investasi itu diperlukan untuk mempertahankan produksi,” ujar Elizabeth.
Sedangkan Public Affairs and Corporate Communication TEPI, Leo Tobing, mengatakan yakin pihaknya masih jadi kandidat terkuat pengelola Blok Mahakam 2017-2042. Mereka juga sudah mengajukan permintaan perpanjangan kontrak kepada Pemerintah Pusat.
Leo mengaku optimistis pemerintah Indonesia akan memperpanjang kontrak pengelolaan Blok Mahakam untuk yang kedua kalinya. Pasalnya Total Indonesia kini mempunyai kemampuan teknologi, sumber daya manusia (SDM), serta pengalaman selama 30 tahun mengelola Blok Mahakam.
“Kami yang paling paham dalam mengelola Blok Mahakam, jadi kami optimis akan diperpanjang,” tutur dia.
Namun demikian, Leo memahami bila sejumlah perusahaan minyak gas serta pemerintah daerah setempat berlomba dalam memperebutkan pengelolaan Blok Mahakam. Karenanya, pihaknya menyerahkan keputusan tersebut pada kewenangan pemerintah Indonesia. “Kami hanya operator jadi terserah pemerintah memutuskan hal ini. Terserah pembagiannya antara provinsi, kabupaten, dan pemerintah pusat,” ujarnya.
Dari Blok Mahakam TEPI sudah mengangkat 2,3 billion cubic feet (bcf, biliun kaki kubik gas) per tahun dari 600 sumur produksi. Sesuai dengan kontrak penjualan, sebagian besar gas itu dijual ke Jepang. Blok ini diperkirakan masih menyimpan cadangan gas sekitar 14 triliun kaki kubik (tcf), lebih besar dari cadangan gas Tangguh, Papua, yang sementara ini diketahui hanya 8 tcf.
Sejak 1967 hingga 2009, total produksi blok Mahakam telah mencapai 13,7 triliun kaki kubik (tcf) gas dan 1.065,5 juta barel minyak.
SUMBER
“Kalau provinsi cukup 40 persen saham pengelolaan Blok Mahakam. Kutai Kartanegara yang dapat 60 persen saham sudah semestinya,” kata Awang kemarin.
Awang mengatakan, sudah ada pembicaraan intensif rencana pengelolaan blok Mahakam antara Pemprov dengan Pemkab Kutai Kartanegara. Masing-masing daerah sudah menyerahkan pengelolaan blok Mahakam pada perusahaan daerah sudah dibentuk.
“Tidak perlu saling bertengkar memperebutkan Blok Mahakam. Semuanya mesti saling pengertian,” ujarnya. Bahkan ia menilai sudah saatnya perusahaan besar multinasional ikut bergabung dalam pengelolaan blok Migas.
Ketua DRPD Kaltim Mukmin Faisyal ikut mendukung sepenuhnya niat ini. Ia katakan, sudah saatnya blok kaya migas itu dikelola oleh Indonesia sendiri. “Cara bisa menggandeng Pertamina,” ucapnya.
Mukmin setuju keterlibatan perusahaan nasional berpengalaman dalam pengelolaan. Karena itulah lobi dengan pemerintah pusat terus dilakukan untuk menggolkan harapan Kaltim.
“Baik bersama DPRD maupun intitusi Gubernur dan timnya untuk terus melakukan lobi-lobi ini,” katanya.
Berapa sebenarnya investasi yang diperlukan?
Presiden Director General dan GM TEPI, Elizabeth Proust, mengatakan pihaknya mengatur anggaran investasi Blok Mahakam dari 1967 sampai 2014 sebesar sebesar USD16,500 miliar atau Rp148 triliun. Saat ini mereka mengeluarkan investasi tambahan Rp38 triliun. Bila mereka berhasil memperpanjang kontrak 2017-2042 (25 tahun), maka mereka menanamkan modal lagi USD7 miliar atau Rp60 triliun.
“Investasi itu diperlukan untuk mempertahankan produksi,” ujar Elizabeth.
Sedangkan Public Affairs and Corporate Communication TEPI, Leo Tobing, mengatakan yakin pihaknya masih jadi kandidat terkuat pengelola Blok Mahakam 2017-2042. Mereka juga sudah mengajukan permintaan perpanjangan kontrak kepada Pemerintah Pusat.
Leo mengaku optimistis pemerintah Indonesia akan memperpanjang kontrak pengelolaan Blok Mahakam untuk yang kedua kalinya. Pasalnya Total Indonesia kini mempunyai kemampuan teknologi, sumber daya manusia (SDM), serta pengalaman selama 30 tahun mengelola Blok Mahakam.
“Kami yang paling paham dalam mengelola Blok Mahakam, jadi kami optimis akan diperpanjang,” tutur dia.
Namun demikian, Leo memahami bila sejumlah perusahaan minyak gas serta pemerintah daerah setempat berlomba dalam memperebutkan pengelolaan Blok Mahakam. Karenanya, pihaknya menyerahkan keputusan tersebut pada kewenangan pemerintah Indonesia. “Kami hanya operator jadi terserah pemerintah memutuskan hal ini. Terserah pembagiannya antara provinsi, kabupaten, dan pemerintah pusat,” ujarnya.
Dari Blok Mahakam TEPI sudah mengangkat 2,3 billion cubic feet (bcf, biliun kaki kubik gas) per tahun dari 600 sumur produksi. Sesuai dengan kontrak penjualan, sebagian besar gas itu dijual ke Jepang. Blok ini diperkirakan masih menyimpan cadangan gas sekitar 14 triliun kaki kubik (tcf), lebih besar dari cadangan gas Tangguh, Papua, yang sementara ini diketahui hanya 8 tcf.
Sejak 1967 hingga 2009, total produksi blok Mahakam telah mencapai 13,7 triliun kaki kubik (tcf) gas dan 1.065,5 juta barel minyak.
SUMBER



0 komentar:
Posting Komentar