(Foto: thinkstock)
Jakarta,
Obat tekanan darah yang sering diresepkan, yaitu losartan (Cozaar)
ternyata bisa mencegah hampir semua kerusakan paru-paru yang disebabkan
oleh paparan asap rokok selama 2 bulan.
Para ilmuwan di Johns
Hopkins telah berhasil membuktikannya pada penelitian yang baru
diujicobakan pada tikus. Penelitian tersebut akan diteruskan pada
penderita chronic obstructive pulmonary disease (COPD) yang terkait
dengan merokok.
COPD merupakan konsekuensi jangka panjang merokok
dan sampai sekarang, tidak ada perawatan potensial yang dikenal untuk
mencegah atau memperbaiki kerusakan paru-paru tersebut.
"Hasil
penelitian menunjukkan bahwa, losartan atau obat serupa dapat berfungsi
sebagai pengobatan yang efektif untuk penyakit paru akibat merokok pada
manusia. Dan karena obat ini sudah disetujui untuk digunakan di Amerika
Serikat sebagai pengobatan yang aman dan efektif untuk hipertensi,
menggabungkan obat tersebut ke dalam pengobatan COPD akan cukup cepat,"
kata Enid Neptunus, MD, seorang peneliti senior dan ahli paru di Johns
Hopkins University School of Medicine seperti dilansir dari
Epharmapedia, Minggu (9/1/2012).
Hasil
penelitian tersebut telah diterbitkan dalam Journal of Clinical
Investigation edisi 3 Januari 2012. Obat tersebut dianggap dapat menjaga
dengan baik struktur dan fungsi paru-paru.
Pada orang dengan
COPD, pernapasan menjadi sulit dan semakin memburuk, saluran udara kecil
dan rongga udara yang mengalirkan oksigen melalui paru-paru dan ke
dalam aliran darah dapat menjadi rusak. Dinding saluran nafas menebal
dan lebih mudah terhambat oleh lendir, dan rongga udara kehilangan
elastisitasnya.
Penelitian sebelumnya pada losartan telah
menunjukkan bahwa, bagian dari kelas obat yang disebut angiotensin II
antagonis reseptor, dapat memblokir aksi dari sinyal protein yang
disebut transforming growth factor beta, atau TGF-beta. Penelitian lain
menunjukkan bahwa, kadar TGF-beta meningkat pada sampel jaringan
paru-paru dari perokok dengan COPD.
"Penelitian kami menunjukkan
dua strategi yang berbeda untuk memblokir TGF-beta mencegah cedera
paru-paru akibat asap rokok. Hal tersebut menunjukkan bahwa, jalur
biologi TGF-beta mungkin menjadi kontributor utama perkembangan penyakit
COPD," kata Neptunus.
Terjadi peningkatan kadar TGF-beta di
paru-paru tikus yang terpapar asap rokok dan dalam sampel jaringan paru
dari 8 perokok dengan COPD. Hasil analisis biokimia menunjukkan bahwa,
tikus yang terpapar asap rokok mengalami peningkatan 4 kali lipat sinyal
TGF-beta di paru-paru. Sinyal TGF-beta dalam paru-paru penderita COPD
adalah 25 persen lebih besar dibandingkan pada perokok tanpa COPD.
Sambil
terus diberi paparan asap tembakau, beberapa tikus diobati dengan dosis
rendah dari losartan (0,6 gram per liter), atau dosis tinggi (1,2 gram
per liter). Satu set tikus yang terpapar asap diberi antibodi
penetralisir sinyal TGF-beta.
Para peneliti menemukan peningkatan
besar dari ukuran kerusakan paru-paru. Terjadi penurunan penebalan
dinding paru pada tikus yang diberi losartan.
Tikus yang diobati
dengan losartan tidak menunjukkan tanda-tanda over-ekspansi paru dan
tidak ada tanda-tanda deposisi kolagen meningkat, dan memiliki tingkat
normal elastin-metabolizing enzymes dan fragmen protein dalam dinding
kantung udara mereka.
Ukuran stres oksidatif, inflamasi, dan kematian sel juga lebih baik pada tikus diberi losartan.
Pendekatan
ini merupakan langkah awal menuju pengobatan pribadi untuk penderita
COPD. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperkuat dan
untuk menguji penggunaan obat tersebut pada manusia.
SUMBER