Berbagai kalangan masyarakat gencar memobilisasi dukungan Pulau Komodo dalam ajang New 7 Wonder.
Seperti industri pariwisata termasuk di Bali, SMS Vote Komodo atau dukungan langsung lewat spanduk dilakukan melalui kegiatan dukungan di Pantai Kuta, hari ini.
Namun di mata Ketua Paguyuban Masyarakat NTT di Bali Yusdi Diaz, mobilisasi dukungan lewat Vote Komodo itu bisa berdampak negatif, karena akan menggiring wisatawan secara massif.
“Yang kami khawatirkan, jika terjadi wisatawan berbondong-bondong ke Pulau Komodo, maka akan terjadi over kapasitas dan itu bisa berdampak buruk bagi habitat atau lingkungannya,” kata Diaz kepada wartawan, Kamis (3/11/2011)
Dampak dari vote Komodo ini, sambung dia, maka masyarakat akan semakin banyak mengenal taman nasional yang dihuni ribuan hewan purba ini.
“Karena itu, sekarang kembali kepada sikap pemerintah, apakah akan menjadikan atau mengembangkan Pulau Komodo sebagai Taman Nasional atau menjadi wisata masif,” katanya.
Namun di mata Kepala Taman Nasional Komodo, Sustyo Iriyono, sah-sah saja masyarakat untuk mengkampanyekan wisata andalan Provinsi NTT ini, agar semakin dikenal dunia.
“Saya rasa tidak ada persoalan. Cuma kalau dalam persoalan aspek promosi untuk menarik wisatawan sebenarnya tidak bisa melihat langsung secara hitam putih,” kata Sustyo
Pihaknya meminta pihak-pihak agar upaya lewat vote komodo itu jangan sampai dibenturkan dengan aspek lingkungan. Sebab dalam pengelolaan taman nasional itu sudah ada fatzoen atau rambu-rambu yang mengaturnya.
Rambu-rambu dimaksud seperti pengelolaan rencana setrategis berjangka 25 tahun ke depan. “Di sini ada zonasi untuk pemanfaatan mulai zona bahari, zona inti, hingga zona rimba untuk mengakomodasi semua kepentingan,” jelasnya.
Terhadap kemungkinan munculnya gelombang kedatangan wisatawan secara besar-besaran, juga tidak akan menimbulkan masalah serius.
Pihaknya sudah biasa mempersiapkan diri dalam menyambut kedatangan wisatawan dalam jumlah besar baik asing maupun domestik.
“Kami sudah berbenah diri sejak tahun 2010, mulai penyiapan SDM, sarana dan prasarana seperti dermaga yang ada semua tidak ada persoalan,” imbuhnya.
Bahkan setiap tahun, pihaknya kedatangan tak kurang 20 kunjungan dari kapal pesiar atau cruise yang mengangkut ribuan turis.
Tentunya, kunjuangan wisatawan akan diatur sedemikian rupa sehingga tidak sampai terjadi over kapasitas. Misalnya dengan cara memecah rombongan agar bisa menikmati obyek-obyek wisata yang ada di Taman Nasional tidak hanya di daratan namun juga di lautan.
okezone.com
Seperti industri pariwisata termasuk di Bali, SMS Vote Komodo atau dukungan langsung lewat spanduk dilakukan melalui kegiatan dukungan di Pantai Kuta, hari ini.
Namun di mata Ketua Paguyuban Masyarakat NTT di Bali Yusdi Diaz, mobilisasi dukungan lewat Vote Komodo itu bisa berdampak negatif, karena akan menggiring wisatawan secara massif.
“Yang kami khawatirkan, jika terjadi wisatawan berbondong-bondong ke Pulau Komodo, maka akan terjadi over kapasitas dan itu bisa berdampak buruk bagi habitat atau lingkungannya,” kata Diaz kepada wartawan, Kamis (3/11/2011)
Dampak dari vote Komodo ini, sambung dia, maka masyarakat akan semakin banyak mengenal taman nasional yang dihuni ribuan hewan purba ini.
“Karena itu, sekarang kembali kepada sikap pemerintah, apakah akan menjadikan atau mengembangkan Pulau Komodo sebagai Taman Nasional atau menjadi wisata masif,” katanya.
Namun di mata Kepala Taman Nasional Komodo, Sustyo Iriyono, sah-sah saja masyarakat untuk mengkampanyekan wisata andalan Provinsi NTT ini, agar semakin dikenal dunia.
“Saya rasa tidak ada persoalan. Cuma kalau dalam persoalan aspek promosi untuk menarik wisatawan sebenarnya tidak bisa melihat langsung secara hitam putih,” kata Sustyo
Pihaknya meminta pihak-pihak agar upaya lewat vote komodo itu jangan sampai dibenturkan dengan aspek lingkungan. Sebab dalam pengelolaan taman nasional itu sudah ada fatzoen atau rambu-rambu yang mengaturnya.
Rambu-rambu dimaksud seperti pengelolaan rencana setrategis berjangka 25 tahun ke depan. “Di sini ada zonasi untuk pemanfaatan mulai zona bahari, zona inti, hingga zona rimba untuk mengakomodasi semua kepentingan,” jelasnya.
Terhadap kemungkinan munculnya gelombang kedatangan wisatawan secara besar-besaran, juga tidak akan menimbulkan masalah serius.
Pihaknya sudah biasa mempersiapkan diri dalam menyambut kedatangan wisatawan dalam jumlah besar baik asing maupun domestik.
“Kami sudah berbenah diri sejak tahun 2010, mulai penyiapan SDM, sarana dan prasarana seperti dermaga yang ada semua tidak ada persoalan,” imbuhnya.
Bahkan setiap tahun, pihaknya kedatangan tak kurang 20 kunjungan dari kapal pesiar atau cruise yang mengangkut ribuan turis.
Tentunya, kunjuangan wisatawan akan diatur sedemikian rupa sehingga tidak sampai terjadi over kapasitas. Misalnya dengan cara memecah rombongan agar bisa menikmati obyek-obyek wisata yang ada di Taman Nasional tidak hanya di daratan namun juga di lautan.
okezone.com




0 komentar:
Posting Komentar